Kata Kata Beler tentang Inception


Inception



Hahaha.

Ini tulisan beler kedua gw tentang Inception. Yang pertama ada di sini.


Sebelumnya, Spoiler Alert! Lo udah diperingatkan. Kalo belum nonton, close aja page ini, kalo udah, terima kasih udah mau baca blog terlantar gw ini. Hahaha.

Enjoy!


Seperti biasa, tulisan-tulisan beler ini jangan dianggap review,.



Hehehe,.



Inception.


Kita semua sudah tahu, Christopher Nolan itu sutradara seperti apa. Filmography nya, Following, Memento, Insomnia, Batman Begins, dan The Dark Knight, speaks for it self.

Permainan plot dan kedalaman cerita menjadi kualitas utama film-filmnya.

Dan datanglah Inception. Film yang paling saya tunggu-tunggu tahun ini.


Extraction adalah pengambilan ide, dari pikiran seseorang. Inception adalah kebalikannya. Konsepnya cukup sederhana, namun setelah berangkat dari itu, tangan Nolan mulai bekerja.


15 menit pertama kita diajarkan, ‘Apakah Extraction itu?’

Setelah itu, roda penggerak film ini mulai digerakkan. Saito, powerful businessman, (Ken Watanabe), memberikan leading man film ini, Dom Cobb (played strongly by Leonardo DiCaprio, yang make-upnya membuat ia terlihat mirip dengan Nolan), meminta Cobb melakuakn Inception kepada rival bisnisnya, Fischer Jr., played by Cillian Murphy dengan bayaran, an offer Cobb can’t refuse.

Dom Cobb setuju, lalu ia dengan tangan kanannya, Arthur (played by the man who looks fuckin’ cool all the time, Joseph Gordon-Levitt), membuat tim untuk melakukan Inception.


Yang pertama mereka lakukan adalah, menentukan The Architect (sounds cool, eh?). Architect adalah orang yang merancang mimpi, tempat Cobb dkk (can I say Inceptor?) melakukan tugasnya, secara fisik. Architect merancang gedung, jalan, ruangan, dll, lalu menunjukkannya kepada dreamer, untuk dimimpikan.

Terpilihlah seorang perempuan (you know, sex diversity) bernama Ariadne, played by Ellen Page (can I get a Hallelujah?). Sebelum terjun ke pekerjaannya, ia di briefing dahulu oleh Cobb, or should I say, kita yang di briefing dahulu oleh Christopher Nolan.


Setelah menemukan The Architect, The Forger adalah sasaran selanjutnya. Terpilihlah Eames, played by Tom Hardy, with his witty English accent one-liner. The Forger adalah orang yang mengimitasi penampilan fisik, yang berfungsi untuk mempermudah jalan melakukan Inception.


Lalu dengan rekomendasi Eames, The Chemist pun mereka dapatkan. Yusuf, played by Dileep Rao (you know, ethnic diversity) mempunyai ramuan sendiri dalam sedative nya, ramuan yang cukup kuat untuk melakukan lebih dari 2 paralel mimpi.


Setelah itu, dengan bergabungnya The Tourist, yaitu Saito sendiri, untuk memastikan kesuksesan Inception, dimulailah misi mereka.

As they doing their mission, datanglah halangan dari proyeksi-proyeksi defensive mechanism nya Fischer. Crisis arises, and put the team on panic mode.


Motif menghancurkan rival bisnis, adalah motif yang kurang dalam, sehingga tumpuan utamanya terletak pada mental struggling dari karakter utama, Dom Cobb. (Terdapat pula sub-plot ayah dan anak pada Fischer)

Dom Cobb diceritakan menjadi orang yang bersalah secara hukum. Ia dituduh membunuh istrinya, Mal (Marion Cotillard), sehingga ia tidak bisa berada di negaranya sendiri, yang membuat ia terpisah dari anak-anaknya.

Istrinya sebenarnya bunuh diri, karena ketidakmampuan dalam menerima realitas sebenarnya.


Cobb dan istrinya bermain-main dengan kedalaman mimpi. Cobb mengeksplorasi mimpi di dalam mimpi, dan seterusnya, tanpa menyadari, konsekuensi ‘waktu’. Mereka membangun mimpi mereka, sampai pada akhirnya, mereka tersesat.

Realitas menjadi kabur. Mal lalu merasa ia tidak ingin kembali, dengan menyimpan ‘totem’nya. Cobb lalu melakukan inception pertamanya, ia menyiasati totem milik Mal, sehingga Mal setuju kembali ke realitas.

Tetapi, Inception tersebut tidak sempurna. Mal merasa realitasnya, bukanlah realitas yang sebenarnya. Ia pun bunuh diri demi mengejar realitas yang ia inginkan.


Hal ini menjadi sebuah rasa bersalah yang amat sangat besar dan mengakar dalam diri Cobb. Mengakibatkan ia harus menyimpan proyeksi istrinya, untuk mengenang kebahagiaannya, sekaligus mengingatkan sesuatu yang harus ia perjuangkan.



Nolan plays God in Inception. Enter the world of Nolan.


Inception, adalah fast-paced film, mengharuskan kita belajar cepat dari setiap frame yang ditampilkan. Tapi, Nolan memberikan kita petunjuk jalan selama film berlangsung. Dia tidak memberitahu secara blak-blakan, melainkan membimbing kita menikmati proses dalam mengerti film ini.


2 setengah jam, kita dimanjakan dengan visual yang indah. Ada banyak sekali hal-hal yang bisa kita nikmati. Mulai dari kota (paris dan mombasa) yang indah, max awesome slow-mo, etc.

Para pemain pun memberikan penampilan yang patut dipuji. Pemeran favorit saya selain Ellen Page (Ariadne), adalah Tom Hardy (Eames).

Menurut saya, ia menang tipis dalam Battle of The Bad-Ass, The Witty English Accent One Liner, Eames, versus The Fuckin’ Cool Kicking Ass in Zero Gravity, Arthur.

And the music, the pulsating and intense score, is from the master, Hans Zimmer. Bravo.

Nolan dalam Inception menyuguhkan jalan cerita yang multi-linear, tidak seperti Memento yang non-linear. Bukan hal yang baik atau buruk, tetapi lebih seperti pilihan, mainstream or not. Tetapi agak berbeda degan perkiraan saya, mind bender seperti Memento.

Entah kenapa menurut saya ini seperti campuran Eternal Sunshine of The Spotless Mind yang lebih kelam, dengan The Matrix.


Quote favorit saya adalah:

Cobb: “I miss you more than I can bear.”


Akhir kata, Inception adalah film dari si jenius Nolan, film yang memuaskan hampir dalam segala aspek, film yang tetap membuat anda terpaku di kursi penonton.


A mind-fuck film that keeps continues blowing your mind.


Hehehe,.


Ciao.


Inception


Kata-Kata Beler yang Full ada di sini, Kata Kata Beler tentang Inception.

Kalo udah nonton ke situ aja. Hehehe.



Inception



Here I am, sitting in front of my laptop, trying to write about Inception.


Fuck it, I ‘m just going to write as I like.


And here we go…


In Inception, Christopher Nolan isn’t just being the director. He plays God.



I want to keep this spoiler free, because, well you know, it’s Nolan, so that you can fully enjoy the film.


The story is about a dream invader, Dom Cobb, played by DiCaprio, failed to do his task, to extract an idea from Saito, played by Ken Watanabe.

After that, Saito, made an offer Cobb can’t refuse. Saito wants Cobb, not to extract, but to implant an idea to his business rival, Fischer Jr., played by Cillian Murphy.

Cobb and his work partner, Arthur (Joseph Gordon-Levitt) then assemble his own team that includes Ariadne (Ellen Page), Eames (Tom Hardy), and Yusuf (Dileep Rao). Each one of them is a specialist about something (you can figure out yourself) in this mission.


I think this is just as far as I can tell you about the plot. :)



In Inception, Nolan fucks the reality by creating his own.


When we watch Inception, understanding the plot is about process that we have to learn. A lot of layers that we have to dissects. We have to learn how, what, when, where, who, why. And I can assure you, Inception is NOT that hard to understand. The learning process is enjoyable. (Well, at least for me)

In this fast-paced film, what Nolan gave to his audience, is a concept about idea and dream. How an idea can be manipulated and a dream that can be constructed.

Nolan gives that concept, in his uniquely own way, which includes cool sci-fi action scenes.


On visual aspect, Nolan gave us a distorted yet beautiful reality. With lots of cool Slow-Mo, there are many action scenes that impossible to forget.

As we enjoy the action, we are forced to follow the plots movement, the change of the dream, and the change of perspective.


The actor and actress that played in Inception gave us much to enjoy. All of them played great bringing their own character.

And the music by Hans Zimmer, amazing! Minimalist original, kept the intensity of the film.


Bottom line, Inception is a mind-fuck film that keeps blowing your head.


Actually, I can’t write as much as I want about Inception. There’s too many risk of spoiler. So I think I’m just going to write another Inception review some other time. Hehehe.


Before I end this, I just want to thank Christopher Nolan, for bringing Inception to this world.


From the bottom of my heart, I thank you, Mr. Nolan.


Hehehe.


Ciao!


P.S. : Entar gw mo nulis lagi, kapan tau dah. Lebih banyak dan lebih ngebahas, kayak tulisan gw biasanya. Hahaha.

Up In The Air

Ya Ha!

Sorry ni udah ampir sebulan ga nge blog. Hehehe.

Mau nge blog ada aja halangannya.

Mulai dari laptop rusak lah, minggu-minggu UAS, urusan di kampus, dll.


Anyhoo, harusnya itu ga jadi alasan si.


Oke, film kali ini yang akan gw belerin adalah Up In The Air.


Hehehe,.


Seperti biasa, tulisan2 beler ini jangan diangap review.



Up In The Air.


Director : Jason Reitman.


Cast : George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick.


Saya tertarik dengan film ini karena, tentu saja, nominasi Best Picture di Academy Awards.

Saya semakin penasaran karena beragamnya tanggapan orang-orang yang saya tahu akan film ini.

Gw mulai berpikir, okay, mungkin ini tipe film love it or hate it.


Dan saya pun menonton film ini.


Up In The Air adalah sebuah komedi, dimana kita tertawa dengan rasa getir di dalam hati kita.

Film ini hadir, dengan segala ke-kaku-annya, menggendong sebuah sisi manusiawi seseorang, yaitu ketika seseorang dinyatakan tidak diperlukan / dihargai lagi di tempat ia menggantungkan dirinya selama ini.


Ryan Bingham, dimainkan dengan hebat oleh George Clooney, adalah seseorang yang hidup dengan gaya yang Amerika sekali. Ia punya pekerjaan, sebuah karir yang ia banggakan karena ia merasa yang terbaik dalam karirnya itu. Ia menikmati segala luxury yang ia dapatkan dari pekerjaannya itu. Ia membuang hal-hal yang menurut dia hanya akan menghambat laju pekerjaannya.


Salah satunya, ia membuang orang lain. Ia tidak mau memiliki relationship, apalagi menikah, ia tidak terlalu peduli dengan keluarganya sendiri. Hubungan dengan orang lain yang ia jalin hanyalah sekedar hubungan pekerjaan, atau hubungan ‘fun’ dengan seorang wanita.


Ironisnya, pekerjaan yang ia lakukan, seorang Career Transition Counsellor / Termination Facilitator, adalah sebuah pekerjaan yang dihadapkan dengan sisi lemah seorang manusia.


Dengan hidupnya yang seperti itu, ia dipertemukan dengan seorang fresh graduate bernama Natalie Keener, dimainkan oleh Anna Kendrick, yang memiliki ide baru untuk memecat orang. Sebuah ide yang mengancam pekerjaan Ryan. Sebuah ide yang saya rasakan, lebih tidak manusiawi.


Ryan pun ditugaskan untuk mengajari Natalie, seperti apa rasanya melakukan pekerjaan Ryan, menghadapi orang-orang yang akan dipecat.


Spoiler Alert.


And as the time goes, yang belajar lebih banyak adalah Ryan.


Dan ketika ia menyadari itu semua, ia berusaha membuat hidupnya lebih baik.


Apa yang ia dapatkan? Sebuah penolakan.


Ia malah kembali kepada apa yang selama ini ia jalani.


Up In The Air hadir dengan visualisasi yang kaku, dengan editing yang kurang dinamis, dan font nama-nama kota yang formal. Kaku, dan dingin seperti kehidupan Bingham.


Akting para pemain di film ini petut dipuji. Semuanya memberikan penampilan yang baik. Terlebih George Clooney. Saya merasa bahwa Ryan Bingham tidak dapat diperankan oleh aktor lain selain George Clooney. Atau hasilnya akan berbeda.


Salah satu hal yang saya sukai dari film ini adalah musiknya. I really enjoyed the music.


Quote favorit saya adalah:

Ryan Bingham : ” We are sharks.”

Mengingatkan saya pada quote dalam film Annie Hall.

Alvy Singer: “A relationship, I think, is like a shark. You know? It has to constantly move forward or it dies.”


Overall, mengutip dari Roger Ebert, Up In The Air adalah sebuah smart, edgy mainstream films. That's harder than making smart, edgy indies. Film yang pantas dinominasikan dalam Best Picture. Well deserved.


Winner? I don’t think so.


Hehehe.


Ciao.

Macabre / Rumah Dara

Hai. Udah lama nih gw ga nge blog.
Maklum liburan. Hehehe.
Tulisan saya kali ini merupakan oleh-oleh dari Opening INAFF 09.
Terima kasih banyak buat The Mo Brothers untuk invitation nya.

Dan untuk Provoke! yang ngasih gratisan buat nonton lagi tanggal 9 Januari 2010.
Hehehe.

Postingan saya kali ini sebenarnya adalah note yang sudah saya tulis di facebook dari November 09. Hanya tidak saya posting di sini, berhubung filmnya belum keluar.

Oh ya, saya lebih senang dengan Macabre. Bukan Rumah Dara atau Darah.
It sounds more Fun.

Hehehe,.

Seperti biasa, tulisan2 beler ini jangan diangap review,.

MACABRE.

Director : The Mo Brothers

Cast : Shareefa Danish, Julie Estelle, Sigi Wimala, Ario Bayu, Arifin Putra, Imelda Therinne, Ruly Lubis

Pertama kalinya hidup saya dimasuki The Mo Brothers adalah saat saya menyaksikan Dara di Workshop LA Lights. A satire slasher, great short movie, dan membekas di kepala saya.
Dan karenanya, saya menunggu film panjang The Mo Brothers, Macabre.

Macabre berkisah tentang sekelompok orang, yang terjebak dalam suatu keadaan yang tidak menyenangkan.
Seberapa tidak menyenangkannya, bisa anda lihat sendiri dalam filmnya.

Ceritanya memang tidak baru, tapi yang daya tarik terbesar dari film ini adalah, sampai sejauh mana The Mo Brothers berhasil mendorong batasan film dengan darah, di tanah air kita ini.

Dan saya katakan. The Mo Brothers are SICK!
Seperti kata Joko Anwar, "I have seen the future of horror. Their name is The Mo Brothers."

Macabre benar-benar suatu film yang menembus batas darah Indonesia, dengan mudah berhasil keluar dari kungkungan film horror kacrut Indonesia.

Macabre juga tidak semata-mata hanya mengeksploitasi dan bermain-main dengan darah dan potongan tubuh. Film ini berbicara tentang survival, dan bagian slasher dari film ini merupakan perpanjangan akibat dari cerita.

Darah yang muncul, hampir realistis, dan terasa seperti hal yang lumrah, dikarenakan frekuensi kemunculannya yang tinggi.

Setiap aktor/aktris yang muncul, berhasil membawakan perannya dengan impresif. Ekspresi keputusasaan, ketakutan, kelelahan, semuanya berhasil dibawakan dengan baik, sehingga penonton merasa percaya dengan mereka.
And btw, Joko Anwar jadi cameo di sini. Gantian dari The Mo Brothers yang jadi cameo di Pintu Terlarang.

Dan, sangatlah wajar jika Shareefa Danish behasil memenangkan Best Actress dalam Puchon Film Festival. Akting yang ia tampilkan memang sangat baik, ia berhasil membawakan peran Mother of all fear dengan ekspresi psychotic elegan yang seakan tidak pernah puas jika belum menghabisi korbannya. She's like a bulldog looking for blood. She's just going on, and on, and on, and on...

Make-up.
Bicara soal make-up film horror Indonesia, yang terlintas adalah hantu bedakan tempelan.
Tapi di Macabre, sangat sangat keren.
Make-blood para artisnya sangat realistis and enjoyable, entah itu mata lebam, muka terbakar, mandi darah, dll. Kemajuan hebat untuk film Indonesia.

The pieces.
Biasanya kita mudah saja membedakan dan memperhatikan bahwa potongan tubuh yang muncul dalam film, terlihat buatan. Macabre berhasil lepas dari itu, dan tidak seperti film lain yang hanya menampilkan sedikit shot dan cepat untuk potongan tubuh, segala bentuk hasil pemotongan dalam Macabre, ditampilkan dengan realistis dan tidak tanggung-tanggung. Love it. Hehehe.
*Ada sedikit perbedaan dengan yang rilis di bioskop Indonesia, ada beberapa bagian yang sedikit di edit. Namun, TIDAK mempengaruhi kualitas keseluruhan film.

You know what I like the most from Macabre?
It's how the killer treat their prey. How the killer try to kill.
They do that in the most possible creative way.

Now, I'm not gonna spoil on how Macabre does that, just save it for yourself until you watch it.
It's a 5 star entertainment.

Now, I hate to say this, tapi Macabre juga memiliki kekurangan.

Kekurangan yang saya rasakan pertama kali adalah, kurangnya pendalaman karakter pada 6 orang korban. Sangat disayangkan, karena hal itu membuat saya tidak bisa simpati sepenuhnya pada mereka. Saya kurang rooting kepada mereka. Saya menjadi hanya menikmati mereka dibunuh. Hehehe.

Lalu, ada beberapa hal kecil yang agak mengganggu saya.
Seperti para polisi yang datang. Terlihat kurang believeable. Apalagi dengan rompi salah satu anggota polisi, yang ditempel tulisan 'Polisi'. Dan juga mobil kijang kotak polisi dengan sirenenya.

Tapi saya percaya, berbagai kekurangan di film ini sebagian besar dikarenakan oleh budget produksi yang mencekik.

And btw, there's some little things that I found interesting.
Adanya proyektor yang memainkan roll film 8mm. Holland spreken nya Dara. Senjata yang dipakai Ladya untuk versus dengan chainsawnya Dara (you'll see what it is).
Hehehe.

Tokoh favorit saya adalah Arman. The Butcher.
Ia seperti perpaduan antara The Penguin dan Anton Chigurh with knife. Gendut, pendiam, tenang, and love to butch people.

Overall, Macabre adalah salah satu film terbaik Indonesia. Film yang berhasil membawa nama baik pada genre horror Indonesia. A fun, and entertaining blood trip. Love it.
Standing Ovation buat The Mo Brothers. Terima kasih telah menghadirkan film ini pada kancah perfilman Indonesia.

God Speed The Blood.

Hehehe.

Ciao.

Avatar

Okay, ini tulisan beler kedua di blog gw. Hehehe.

And btw, sehabis nonton Avatar, saya terperangkap dalam keadaan dimana saya diharuskan mendorong bus. Penuh orang lagi busnya.

Anyway, langsung saja.


Seperti biasa, tulisan-tulisan beler ini jangan dianggap review,.


Hehehe,.


Avatar


Director : James Cameron


Writer : James Cameron


Cast : Sam Worthingthon, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Stephen Lang.









Pada awalnya saya kurang tertarik dengan proyek Cameron yang satu ini. Saya memiliki pandangan buruk kepada film-film yang mencampurkan live action dengan CGI, atau film animasi human-like full CGI.

Bagi saya film-film tersebut terlihat aneh. Apalagi animasi human-like full CGI, biasanya ekspresi manusia di film tersebut terlihat kaku.


Tetapi ini film Cameron. Saya lupa dengan pernyataan ini.


Lalu setelah perilisan trailer, dan pembahasan di majalah dan media lain, saya pun menjadi tertarik. Saya penasaran apa jadinya film yang didominasi CGI dan berbujet raksasa ini.


Reaksi saya setelah menonton film ini adalah:

Saya seperti ingin menepuk orang yang duduk di sebelah saya di bioskop, menunjuk layar bioskop, dan berkata “That is how the future of cinematic experience is gonna be.”


Suatu film dinilai dari 2 aspek, yaitu aspek naratif dan aspek sinematik.

Dalam Avatar, James Cameron telah berhasil membawa para penonton merasakan sensasi sinematik ke level di atas film-film lain.

So, so, so beautiful.


Kudos for all the people behind this motion picture.


Avatar dengan mudah berhasil menaklukkan film-film lain dalam hal visual.

Im not gonna tell you how gorgeous it is, you just have to see the film.


Let’s talk about the other stuff.

Cerita Avatar ditulis sendiri oleh Cameron. Satu hal yang positif, diantara banjirnya film-film yang diangkat dari buku, komik, atau remake film-film terdahulu.

Dalam Avatar, kita diajak berpetualang dalam planet imajinasi Cameron, Pandora.

Bagi saya, Pandora adalah versi indah dan bersahabat dari bumi.

There’s so many things you could easily find that related to mother earth.


Ada satu hal menarik yang saya perhatikan, ada perubahan tone warna pada adegan real-live dan Pandora. Pada awal film, pada adegan real-live dan Pandora terlihat biasa saja, dan namun seiring bergulirnya film, ketika alur cerita tiba pada saat Jake 'berpindah' kubu, tone warna pada bagian real-live berangsur-angsur menjadi lebih gelap, sedangkan pada Pandora terjadi hal yang sebaliknya, semakin kaya akan warna.


Plot dan konflik yang ada dalam Avatar bukanlah sesuatu yang spesial, bukan sesuatu yang baru. Avatar hanya berpusat pada satu pernyataan.

Humans are the bad guy.

Menilik film-film Cameron terdahulu (Aliens, Terminator, dll), Cameron memang tidak ingin repot-repot menyajikan film yang kompleks, penuh metafora dan hal lainnya.

Ia hanya ingin filmnya benar-benar dinikmati banyak orang.

But not like Michael Bay’s stupid action.


James Cameron menyadari bahwa film yang bisa dinikmati banyak orang juga harus memiliki kedalaman cerita yang cukup.

Avatar sendiri, walapun memiliki jalan cerita yang mudah diikuti, tetapi terasa mengalir dengan baik, dengan tempo yang tepat, dan juga setiap aksi reaksi yang ada memang dibutuhkan dan tidak sia-sia.

Maksud saya adalah, walaupun ini film action, cerita berjalan bereaksi sesuai akibat dari aksi yang ada, tidak ada adegan ‘no point’ yang tidak diperlukan.


Terlepas dari visualisasi yang menakjubkan, Cameron tidak lupa, pendalaman karakter adalah penting. Walaupun ‘hanya’ CGI, tetapi setiap karakter Avatar dapat mengekspresikan emosi dengan baik dan detil.

Hal ini membuat saya merasa bahwa dinding ‘animasi’ diruntuhkan, dan menganggap mereka adalah nyata.

So, this is not just a head to head CGI action.


Avatar adalah film revolusioner.

Membawa wajah perfilman kepada suatu level baru, dengan tantangan yang baru pula.

Speaking of that, hal ini bukan hanya terjadi kali ini saja.

Watch 2001 : a Space Odyssey, and see what Stanley Kubrick did in 1968.

You will not believe, that the film was made in that time.

And no, Avatar is no 2001. Can't beat the genius.


Secara keseluruhan, Avatar adalah film yang memuaskan dalam banyak hal. Top notch visual effect, great story, makes one of the best cinematic experience.

Salah satu film terbaik tahun ini.


Hehehe,.


Ciao.

My Early Words #4 District 123 Cin(T)a

My Early Works Foreword


Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk menampilkan tulisan-tulisan terdahulu saya di notes facebook, ke dalam blog ini.

Beberapa postingan baru ini, adalah tulisan-tulisan ketika saya baru mau dan berani menumpahkan pikiran saya ke dalam tulisan.

Saya hanya merasa agak ganjil saja jika tidak menaruh tulisan-tulisan ini ke dalam blog saya.

Hehehe.

Anyway, here it is. Enjoy!


21 Agustus 2009.


Hahaha.
Sampai saat ini, mungkin note ini yang paling bacot.
Karena itu, saya katakan saja Spoiler Alert! dari awal.

Okay, first of all, buat yang males baca, udah ga usah baca aja sekalian.
Atau yang mau baca salah satu film saja, silahkan.

Hehehe,.

Seperti biasa, tulisan2 beler ini jangan diangap review,.


DISTRICT 9.

Ketika saya membaca tentang film ini di Cinemags, tentang bagaimana sang Peter Jackson bisa tertarik dengan Neil Blomkamp, saya penasaran, apa yang bisa membuat Peter Jackson tertarik.
Lalu saya melihat short movie cikal bakal District 9, 'Alive in Joburg' di Youtube.
Saya lalu (dengan soktahu) mengerti kenapa Peter Jackson tertarik dengan Neil Blomkamp.
Alive in Joburg adalah salah satu film pendek yang impresif, dan memiliki banyak potensi untuk dibuat versi panjangnya.
Peter Jackson ingin, dan sekaligus penasaran, seperti apakah jadinya jika film pendek tersebut dapat tayang di layar lebar.

Dan saya katakan ini, District 9 adalah perwujudan film sci-fi yang telah berevolusi, keluar dari kungkungan film-film dengan alien, memiliki layer, dan tidak Hollywood (okay, mungkin sedikit).

Film sci-fi documentary action ini, bersetting di Johannesburg, Afrika Selatan (Ha! Bukan New York, Los Angeles, atau kota apapun yang menjadi pilihan narsisistik Amerika).
Di sini kita disuguhkan keadaan kota di Afrika Selatan, yang dengan aksen dan budayanya, menunjukkan kita suatu kota di salah satu tempat di muka bumi ini yang jarang terekspos.
Apa yang kita dapatkan? Suatu realitas yang tidak dipaksakan.

Alien yang ada di District 9 tetap tidak jauh berbeda dengan bentuk alien di film-film lain.
Tapi, visual effect yang digunakan amat sangat baik untuk film dengan bujet $30M.
Adegan action, robot dan senjata yang ada pun ditampilkan dengan menyenggol fantasi seorang anak laki-laki. Cool and fun.

Untuk akting, saya memberikan nilai tinggi kepada Sharlto Copley yang bermain menjadi Wikus van der Merwe, yang memulai debut film panjang pertamanya dengan fim ini.
Ia berhasil membawakan karakternya dengan baik, bahwa biarpun ia seorang yang mudah termakan emosi dan gemar berkata kasar (dengan aksen yang lucu malah), saya masih merasa simpati kepadanya, saya ingin dia hidup, saya ingin dia bertemu kembali dengan istrinya, saya ingin dia berhasil membawa perbedaan kepada ras alien yang tertindas. I'm rooting for him.

Mari kita lupakan saja pertanyaan tentang bagaimana Wikus bisa mengerti (atau seakan mengerti) apa yang dikatakan Prawn (mungkin ada Kamus Saku 500.000 kata Prawn-English yang dijual di bus-bus Johannesburg dengan harga terjangkau yang lebih murah dibanding yang dijual di toko buku), dan pertanyaan2 lain dan plot holes yang timbul seputar alien.

Untuk hal-hal lain, seperti score, film ini memiliki score yang mendukung mood, baik itu saat adegan action atau adegan drama yang menyayat hati.
Sudut pandang kamera yang berpindah dari dokumenter dan biasa, memberikan tontonan yang unik tapi tetap enjoyable.

Satu hal lagi, seperti bawang, film ini memiliki layer, yang biasanya jarang terdapat pada film-film sci-fi dan action.
Kekuatan film ini tidak berasal dari Alien dan adegan actionnya, tetapi dari subtext yang diangkat Neil Blomkamp, yang mungkin ia ketahui ketika melewatkan masa kecilnya di Afrika Selatan.
Apartheid.
Neil Blomkamp tidak berusaha menyuguhkan isu Apatheid dengan dialog politik panjang lebar yang dibawakan oleh pria buncit paruh baya berkemeja, tetapi ia menggunakan medium yang fun dan bisa dinikmati khalayak ramai, Alien in Action.
Kita bisa menvisualisasikan hanya karena perbedaan, bagaimana sebuah kelompok dipisahkan dari masyarakat, dianggap makhluk kelas dua, dan nyawa yang mereka miliki dianggap kurang berharga.

Quote favorit saya adalah
Christopher Johnson : "Kooerk aaoght ogqogq euygxeuygsm".
Hehehe.

Overall, film ini adalah film one of a kind yang memiliki elemen sci-fi, originalitas, satir yang dijadikan satu dengan hasil yang tetap fun dan enjoyable.
Can't wait to see more of next Neil Blomkamp's.


THE TAKING OF PELHAM 123.

Saya selalu menikmati film-film kolaborasi Tony Scott - Denzel Washington.
Jadi ketika saya mengetahui bahwa ada film kolaborasi mereka yang akan keluar, saya tentu berharap bahwa saya akan dipuaskan.

Tony Scott (bersama saudaranya Ridley Scott) adalah sutradara yang meiliki kekhasan tersendiri.
Kekhasannya terletak pada sudut pandang kamera, dan editannya.

Saya selalu menyukai akting Denzel Washington. Ia selalu berhasil membawakan karakter yang ia perankan dengan baik. Dan ia membawakan karakternya dengan caranya yang elegan dan dengan kekhasannya sendiri.

The Taking of Pelham 123 sendiri diangkat dari sebuah novel, dan telah dibuat versi layar lebarnya sebanyak dua kali. Besutan Tony Scott kali ini adalah remake yang ketiga.

Ketika menonton film ini, saya disuguhkan dengan tipe pengambilan gambar ala Tony Scott, akting mumpuni Denzel, akting cukup John Travolta (mungkin dia memakai kacamata untuk menutupi kekurangan aktingnya), adegan layaknya film action Hollywood, setting layaknya film action Hollywood, cerita layaknya film action Hollywood, dll.

It's fun, though.
The Taking of Pelham 123 memberikan saya suatu hiburan dengan visualisasi kamera dan editan Tony Scott yang menyenangkan.
Alur cerita yang berjalan pun dibuat tetap cepat dan intens (dengan penunjuk waktu sekian minutes remaining).
Dialog antar Ryder-Garber yang teasing each other, menyimpan amarah, menggali sisi kemanusiaan, membuat saya duduk manis dan mendengarkan.
Plot dan karakterisasi yang ada juga 'hampir' terperangkap dalam jerat stereotype, tetapi tetap menarik dan believeable.

Still, there's a but.
Jika dibandingkan dengan film-film Tony Scott - Denzel Washington sebelumnya, seperti Man on Fire dan Deja Vu, saya seperti disuguhkan suatu buku dengan sampul yang berbeda.
Eh salah, buku yang berbeda dengan sampul yang sama. (Kan ceritanya beda, visualisasinya saja yang sama)
Tidak ada sesuatu yang baru yang signifikan yang dapat saya temukan.
Suatu eksekusi yang disayangkan, tidak ada sesuatu yang benar-benar menonjol dan fresh, sehingga membuat film ini dianggap sebagai 'Another Tony's and Denzel's movie'.

Quote favorit saya adalah
Walter Garber : "I didn't do it."

Overall, film ini menyajikan suatu rangkaian cerita dan action yang menarik, memanjakan mata, dan membuat kita tetap mencengkeram pegangan tempat duduk bioskop.
A fun, and entertaining movie.


CIN(T)A.

First encounter saya dengan film ini adalah ketika beberapa bulan lalu kakak saya mengirimkan message lewat facebook yang berisi trailer film ini.
Saya pun melihatnya. First impression saya adalah, film ini adalah salah satu film yang muncul akibat ketidakpuasan dengan keadaan perfilman Indonesia. Dan apakah film ini dieksekusi dengan baik?
Pertanyaan itulah yang menggantung dalam pikiran saya.

Lalu ketika saya mengikuti workshop film dari LA-Lights, sutradaranya hadir dan menjadi salah satu pembicara, sekaligus menampilkan behind the scenes dalam rangka mempromosikan fim ini.
Dugaan saya yang mengira film ini adalah film biasa meleset, film ini adalah film indie, yang dibuat oleh sutradara yang tidak memiliki latar belakang pendidikan film, pemeran utama yang debut aktor dan aktris, dan dana yang indie, yang pas-pasan.

Pandangan saya berubah, tapi pertanyaan saya tetap sama, Apakah film ini dieksekusi dengan baik?

Pertanyaan saya muncul bukan karena sutradara dan pemerannya adalah debutan film panjang, tetapi karena tema, isu, dan kegalauan sosial yang diangkat.

Film ini mengisahkan tentang cinta segitiga antar laki-laki Cina Katolik, perempuan Jawa Muslim, dan (T).

Film ini saya katakan benar-benar mengambil resiko.
Bukan resiko karena masalah ras dan agama. (Yah, itu juga mungkin resiko juga sih.)
Tetapi, resiko menjadikan film ini sebagai dialog pribadi yang dangkal.

Dengan tema yang diangkat, film ini seperti berjalan di tepi jurang, bisa jatuh ke dalam jurang dialog yang dangkal, terkesan berat tetapi tak berisi, terkesan menyindir dan menyadarkan tetapi tidak mengena, dll.
Di tangan yang salah, film ini bisa jatuh dalam hal-hal tersebut.

Tetapi, hal yang saya takutkan tidak terjadi.
Film ini berhasil hadir dengan dialog-dialognya, pertanyaan-pertanyaannya, tanpa menggurui, tidak memojokkan salah satu agama atau ras, mengembalikan kepada kita sendiri interpretasi film ini dan menyisakan pertanyaan pada diri kita sendiri.
Bravo.

(Yah, walaupun ada beberapa dialog berbahasa Inggris yang agak ganjil terdengar, tetapi maksudnya baik. Tetep oke kok. Hehehe.)

Untuk akting, film ini hanya di lead oleh 2 orang pemeran utama dan satu-satunya.
Sunny Soon sebagai Cina dan Saira Jihan sebagai Annisa.
Sunny Soon bermain sangat baik dalam memerankan karakternya sebagai seorang Cina Katolik yang periang, banyak omong, senang mengejek, tetapi tetap cerdas dan memiliki principle.
Saira Jihan bermain cukup baik sebagai perempuan Jawa Muslim, yang murung, ayu (atau malas?), butuh pertolongan, butuh seorang yang menyadarkan dan membimbingnya.

Fun fact : film ini sama sekali tidak menunjukkan muka / wajah / tampak depan para figuran atau pemeran pembantu.
Film ini didominasi oleh Cina dan Annisa, dengan porsi adegan close-up yang cukup banyak.
Yang laen off-frame dah. Hehehe.

Film ini bersurasi 79 menit. Tetapi tidak terasa singkat atau terlalu lama.
Walaupun sekitar 20/15 menit akhir, alur cerita agak terasa diulur-ulur dengan banyak menampilkan adegan non dialog.
Beberapa adegan humor yang ada pun terasa mengena. (Silet. Ha Ha !).
Jalan cerita yang ada (dan dengan selipan kesaksian-kesaksian yang menurut saya terasa oke dan unik), tetap hadir dengan menarik.

Kekurangan yang ada pun, dari faktor suara yang kurang bersih, beberapa score yang kurang pas dan agak cheesy, dan faktor teknis yang lain, walaupun terasa, tetapi menurut saya hanyalah masalah dana yang mencekik.
Ini indie coy. Hahaha.

Quote favorit saya adalah
Cina : "Bah, maket itu?"
Sebuah konfrontasi awal antara Cina dan Anisa, yang masih menyisakan karakter awal kedua tokoh tersebut (Cina yang langsung kabur dan Annisa yang malas memungut).
Tetapi menjadi sebuah turning point awal (Cina yang membetulkan maket yang ia rusakkan, dan Annisa yang mau menerima Cina setelah sebelumnya mengacuhkan Cina yang meminta tandatangan saat Ospek.) Haha.

Overall, film ini merupakan suatu hasil buah pikir idealis yang belum terkontaminasi, yang hadir dalam suasana indie yang kental.

Akhir kata, sebelum mengakhiri note (apa essay?) ini, mengambil contoh salah satu percakapan antara Cina dan Annisa, (kata-katanya sih kaga kayak gini, tapi intinya sama lah)
"Generasi muda Indonesia adalah generasi yang menyerap filosofi dari film".
Karena itu, Maju terus Perfilman Indonesia.


Capek gw.

Hehehe.

Ciao.

My Early Words #3 Merantau

My Early Works Foreword

Entah kenapa, tiba-tiba muncul keinginan untuk menampilkan tulisan-tulisan terdahulu saya di notes facebook, ke dalam blog ini.
Beberapa postingan baru ini, adalah tulisan-tulisan ketika saya baru mau dan berani menumpahkan pikiran saya ke dalam tulisan.
Saya hanya merasa agak ganjil saja jika tidak menaruh tulisan-tulisan ini ke dalam blog saya.
Hehehe.
Anyway, here it is. Enjoy!

8 Agustus 2009.

Sudah lama saya tidak menulis muntahan segar saya terhadap suatu film.
Akhirnya saya punya bahan juga.
Saya jadi khawatir, jangan-jangan di dalam diri saya muncul panggilan untuk menulis.
Halah.
Saya juga jadi ingin punya blog.
Di waktu mendatang mungkin. We'll see.

Hehehe,.

Seperti biasa, tulisan2 beler ini jangan diangap review,.

Tulisan saya kali ini, adalah yang pertama kalinya saya membahas tentang film Indonesia.
Kenapa yang pertama?
Ya jelas dan jujur saja, sampai saat ini film Indonesia yang layak tonton, masih tergolong sedikit.
Lah kan, Januari kemaren ada Pintu Terlarang, kenapa ga ditulis?
Belum nafsu nulis. Hahahaha.
Sudah ah, jadi ngelantur.

Keinginan saya untuk menonton Merantau, muncul ketika saya menghadiri screening film Dara.
Ketika itu, sutradara Dara dan upcoming Macabre, Timo dari Mo Brothers, berkata bahwa nanti akan ada film action Indonesia yang disutradarai oleh temannya, dan yang saya kutip, ia berkata "Tu film bakal canggih."
Kebetulan Merantau dibahas di Cinemags. Dan setelah saya membacanya, memang terlihat seperti film yang menjanjikan.

Lalu saya melihat trailernya. Enjoyable sekali trailernya. "This is Silat." Yooooiiiiii. Hahahahaha.

Sebelum Merantau, saya hampir lupa keberadaan film action Indonesia.
Terakhir yang saya ingat, mungkin Ekspedisi Madewa. Itu pun tidak saya tonton.
Jadi film ini bisa dibilang, menjadi kebangkitan dari film action Indonesia.
Karena itu saya banyak menaruh harapan pada Merantau.

Setelah saya menonton Merantau, saya berani berkata, bahwa saya puas dengan film action ini.
Apa yang saya harapkan dari Merantau, semuanya terbayar dengan baik.

Film ini di awali dengan menunjukkan kepada kita, keadaan sebuah keluarga di Minangkabau.
Kita diajak mengenal tradisi daerah tersebut, dan pencak silat harimau khas Minangkabau.
Suatu keputusan yang bagus menurut saya, yang diambil oleh sang sutradara, untuk mengenalkan kebudayaan Indonesia tersebut kepada masyarakat Indonesia sendiri, dan masyarakat mancanegara, sehubungan dengan dikutsertakan film ini di festival film di luar negeri.

Lalu, setelah alur cerita berjalan dan berpindah setting di Jakarta, kita diajak untuk melihat Jakarta dari sisi gelapnya, membuat suatu sindiran kepada ibukota negara ini.

Sekitar satu jam dari durasi awal, alur cerita memang terasa agak lambat, sehubungan dengan pengenalan dan pendalaman karakter, serta motif utama tokoh protagonis.
Dan, setelah itu, seperti yang para penonton inginkan, alur cerita pun berjalan cepat dengan adegan-adegan action.

Salah satu saya sukai dari film ini adalah, sudut pandang kamera dan cara pengambilan gambarnya.
Ada pergerakan perspektif di beberapa adegan, yang mebuat film ini menjadi tidak standar.
Dari divisi score, saya cukup senang dengan score yang ada, berhasil membangun mood, dan di awal film, ada score yang berbau minang. Suatu hal yang positif.

Adegan action di film ini, patut saya acungkan jempol.
Koreografi yang ditampilkan, kreatif dan tidak monoton. Pengambilan adegan actionnya juga tidak seperti film-film action luar negeri yang terdiri dari potongan-potongan gambar-gambar close-up, tetapi menampilkan adegan action full-shot, terlihat dari kaki sampai kepala. Memberikan para penonton suatu gambaran perkelahian yang jelas.

Dari segi akting, tidak ada yang tampil menawan. Suatu hal yang bisa berakibat lebih fatal di genre lain, tetapi di genre action, memang bukan segi akting yang ditonjolkan.
Akting Iko Uwais, untuk orang yang berprofesi sebagai non-aktor, bisa dibilang cukup baik.
Akting terbaik, saya jatuhkan kepada Christine Hakim.

Film ini juga bukan berarti tanpa kekurangan. Masih banyak hal yang perlu diperhatikan.
Di sana sini masih banyak bloopers atau plot holes, serta efek darah yang masih terlihat murahan.
(Heh Gareth Evans, belajar donk sama temen lo, si Mo Brothers, manteb tuh darah-darahan mereka)
Saya tidak berkata maklum, karena sudah 'habis jatah' maklum saya terhadap film Indonesia.

Overall, film ini saya anggap berhasil membawa kembali genre action di tanah air kita. Film ini juga menjadi salah satu dari beberapa film Indonesia yang menjanjikan di tahun 2009.

Maju terus perfilman Indonesia.

Hehehe.

Ciao.